Saat Liga Primer mendekati tahap pertengahan musim, pekan pertandingan penting lainnya diakhiri dengan aksi yang menggetarkan di seluruh divisi.

Pentingnya setiap pertandingan terus menjadi lebih relevan karena kami sekarang mencapai akhir bisnis dan banayak tim merasakan tekanan. Pertandingan semakin padat dan cepat dan meskipun masih banyak yang harus dimainkan, tabel Liga sudah mulai terbentuk.

Pertarungan di papan atas, tengah, dan bawah klasemen Liga Primer memanas dengan tim-tim yang berusaha sebaik mungkin untuk mencapai tujuan mereka, tetapi fokus utama artikel ini adalah di puncak klasemen Liga Primer. Secara khusus, perburuan gelar.

Dalam musim yang sejauh ini mengejutkan, tiga dari empat tim saat ini yang finis di luar spot Liga Champions musim lalu sedang berjuang untuk finis empat besar.

Setelah mengakhiri pertandingan akhir pekan lalu, kami melihat apa arti hasil (yang cukup menarik) pertandingan-pertandingan itu dalam konteks perburuan gelar dan melihat apa yang masih bisa terjadi dalam waktu dekat.

Arsenal menghentikan laju tanpa kemenangan ketika bertanding di markas Tottenham Hotspurs untuk membuka keunggulan delapan poin

Arsenal sedang menjalani laju istimewa saat ini. Mereka pergi melintasi kota ke kandang rival terbesar mereka di mana The Gunners belum pernah menang atau mecatat clean sheet dalam tujuh pertemuan dan kemudian pulang dengan membawa kemenangan serta meraih clean sheet. Jika prestasi seperti itu tidak membuat mereka memenuhi syarat sebagai penantang gelar, maka sulit untuk melihat apa lagi yang akan terjadi.

Sebuah kesalahan besar dari Hugo Lloris pada menit ke-14 memastikan awal yang kuat bagi The Gunners. Arsenal terus menekan pertahanan Spurs untuk sebagian besar waktu di babak pertama dengan sundulan Eddie Nketiah dari jarak dekat disusul sepakan jarak jauh Thomas Partey yang membentur mistar dengan cara yang spektakuler. Mereka akhirnya mendapatkan gol kedua yang pantas mereka dapatkan melalui momen brilian dari Martin Odegaard.

Membaca:  Krisis Chelsea: Bagaimana Warga London Akan Bereaksi Setelah Abramovich

Tottenham bangkit di babak kedua dan menjadi ancaman pada periode itu tetapi Aaron Ramsdale melakukan tugasnya dan menghasilkan tujuh penyelamatan brilian disaat para pemain bertahan di depannya ditaklukkan oleh para pemain Spurs.

Pasukan Mikel Arteta menunjukkan mentalitas calon Juara dan sepertinya tidak pernah panik dalam situasi yang sangat tidak bersahabat. Hasil ini membuktikan bahwa Arsenal telah memiliki mentalitas monster musim ini.

Hasil ini memperlebar keunggulan mereka menjadi delapan poin di puncak klasemen dan memastikan bahwa nasib mereka akan tetap berada di tangan mereka sendiri di mana The Gunnerts akan meghadapi Manchester City di akhir musim.

Apakah kekalahan kemarin akan menjadi paku terakhir di Peti Mati Manchester City?

Tentunya tidak, tetapi mungkin saja ternyata demikian.

Kekalahan Manchester City dari rival abadi mereka Manchester United merupakan pukulan psikologis bukan hanya karena hasil dan kontroversi seputar aksi protes mereka untuk gol penyama kedudukan Bruno Fernandes, tetapi juga dalam penampilan mereka.

The Citizens mungkin memiliki 71% penguasaan bola sepanjang pertandingan tetapi mereka jarang mengontrol permainan. Satu-satunya periode di mana mereka tampak benar-benar memegang kendali adalah di 15 menit pertama setelah interval dan dominasi mereka terbayar dengan gol pembuka yang dicetak oleh pemain pengganti yakni Jack Grealish pada menit ke-60.

Penampilan buruk Phil Foden berlanjut saat ia digantikan pada menit ke-57 oleh Jack Grealish dan ketika sang pemain pengganti mencetak gol tiga menit kemudian, sepertinya City telah menemukan cara untuk menyelesaikan masalah yang dihadirkan United kepada mereka di babak pertama, tetapi bukan itu masalahnya. .

Dua gol dalam rentang waktu empat menit yang sangat kacau untuk United berarti pasukan Pep Guardiola akan menderita kekalahan dalam sebuah pertandingan di mana mereka mencetak gol terlebih dahulu untuk pertama kalinya dalam 42 pertandingan. Sebuah statistik yang memberatkan memang.

Membaca:  Bagaimana AI Akan Mempengaruhi Sepak Bola di Dekade Mendatang

Yang lebih meresahkan adalah penampilan Erling Haaland baru-baru ini. Pemain Norwegia itu didatangkan musim panas lalu untuk menjadi kepingan terakhir dari Man City dan catatan 21 gol liga yang luar biasa sejauh musim ini membuktikan bahwa Ia adalah salah satu pencetak gol terbaik di planet ini tetapi haaland sedang puasa gol.

Ia belum mencetak gol dalam tiga pertandingan terakhirnya di semua kompetisi dan sang pemain kesulitan untuk melibatkan dirinya dalam fase ketika timnya membangun serangan. Ia total hanya mencatat 20 sentuhan sepanjang pertandingan yang merupakan angka terendah dibanding pemain mana pun yang bermain selama 90 menit dan hanya berhasil melakukan satu tembakan sepanjang pertandingan.

Sabtu sore bukanlah pertama kalinya Haaland jarang terlibat dalam permainan buildup City, tetapi Ia lebih sering mencetak gol daripada tidak. Dalam pertandingan itu, United mampu melumpuhkan City dan akibatnya jalur suplai kepada Haaland terhambat. Untuk memenangkan pertandingan seperti ini, pemain Norwegia itu harus menunjukkan lebih dari insting predatornya di depan gawang dan menambah dimensi baru dalam permainannya.

Kemenangan Arsenal atas Tottenham berarti bahwa saat ini, gelar juara akan jatuh ke tangan The Gunners dan City hanya bisa mencoba untuk mendekati sempurna antara sekarang dan akhir musim serta berharap sang pemuncak klasemen liga kehilangan momentum di bawah tekanan.

Akankah kebangkitan Manchester United akan membawa mereka ke puncak?

Di ujung lain, Manchester United menunjukkan karakter dan ketahanan untuk bangkit dari ketertinggalan dan menebus diri mereka melawan rival yang membuat mereka kalah 6-3 hanya sekira tiga bulan lalu. Kemenangan ini menempatkan mereka di posisi tiga klasemen, hanya tertinggal satu poin dari City dan sembilan poin di belakang pemimpin liga, Arsenal. Bagaimana waktu telah berubah dengan sekejap mata.

Membaca:  Paul Pogba adalah virus yang harus disingkirkan Manchester United

Taktik United di babak pertama bekerja dengan sempurna karena mereka mampu menahan City dengan hanya menerima dua tembakan sepanjang babak pertama sementara mereka memiliki dua peluang yang sangat bagus untuk mencetak gol melalui serangan balik. Awal babak kedua mendapati City mendominasi dan akhirnya mampu memimpin tetapi United menunjukkan tekad dan determinasi meskipun sebelumnya mengalami kemunduran dan kemudian membalikkan keadaan.

Mereka menciptakan 1,72 expected goals (xG) dan memiliki empat tembakan tepat sasaran sementara di sisi lain membatasi City dengan hanya 0,65 xG dan satu tembakan tepat sasaran yang mengarah ke gawang de Gea sepanjang pertandingan. Dalam enam tahun karir Pep Guardiola sebagai manajer The Citizens, Ia tidak pernah mencatat jumlah serendah itu.

Pertanyaan diajukan mengenai apakah anak asuhTen Hag benar-benar sebaik yang ditunjukkan oleh kemenangan mereka. Setan Merah telah menghadapi banyak tim selama putaran ini yang memang diharapkan untuk bisa mereka kalahkan dan ini akan menjadi ujian nyata untuk melihat di mana mereka sebenarnya berada dalam skema yang lebih besar. Aman untuk dikatakan bahwa mereka telah lulus ujian ini dengan gemilang.

Pasukan Ten Hag memiliki dua perjalanan sulit ke London dalam tujuh hari ke depan dengan bertandang ke markas Crystal Palace pada hari Rabu dan pertarungan besar di Emirates Stadium melawan pimpinan klasemen Arsenal pada hari Minggu. Memenangkan kedua pertandingan akan memangkas jarak mereka dengan Arsenal menjadi hanya tiga poin. Jika United berhasil melakukannya, mereka tidak diragukan lagi akan dianggap sebagai penantang gelar.

Dari bertanya-tanya apakah Erik Ten Hag akan dijuluki Erik Ten Months di bulan Agustus lalu hingga kini berada di puncak tantangan gelar pada bulan Januari, United pasti telah membalikkan keadaan terlepas dari apa yang akan terjadi dalam tujuh hari ke depan.

Share.
Leave A Reply